Sederet Kisah Mistis Pendaki di Gunung Gede Pangrango yang Pemandangannya Viral di Media Sosial

Sederet Kisah Mistis Pendaki di Gunung Gede Pangrango yang Pemandangannya Viral di Media Sosial

Gunung Gede Pangrango yang berada di Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat sempat viral di media sosial karena pemandangannya berhiaskan langit cerah terlihat dari kawasan Kemayoran Jakarta Pusat pada Rabu (17/2/2021) pagi.

Dibalik itu, ternyata Gunung Gede Pangrango ini memiliki sederet kisah mistis yang dialami para pendaki.

Kisah mistis yang pertama dialami oleh Abi Abdillah (25) warga Desa Palungseah RT02/08 Kecamatan Sukabumi Kabupaten Sukabumi yang tersesat selama tiga hari di hutan sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Kini sudah berkumpul kembali dengan keluarga tercinta dikediamannya. Ia ditemukan selamat meski terdapat beberapa luka goresan ditangan kanannya, serta kaki yang lecet.

Abi Abdillah pemuda kelahiran Sukabumi 1995 lalu itu, bisa keluar hutan yang tidak dikenal tersebut setelah ditolong oleh warga Desa Pasirburik Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

Semenjak Abi dinyatakan hilang, semua pihak terkait, seperti petugas Kepolisian, Polisi Hutan, warga sekitar hingga keluarganya pun ikut melakukan pencarian kedalam hutan untuk menemukan pemuda yang ternal pemalu itu.

Dibalik pencariannya tersebut, keluarga Abi dan beberapa rekannya mendapatkan beberap cerita mistis terkait hutan dimana Abi tepat dinyatakan hilang dari warga sekitar.

Ketika memasuki hari kedua proses pencarian, sebenarnya Abi telah bertemu dengan seseorang petani warga sekitar. Bahkan Abi pun sempat diajak keliling hutan.

“Saat tersesat dihutan saya mencoba menelusuri hutan, dan menemukan jalur bekas pemotor, lalu mengikutinya. Lalu bertemu dengan seorang warga sekitar, lalu diajak keliling hutan,” kata Abi saat ditemui dikediamnya.

Sebenarnya Abi bertemu dengan seorang warga sekitar yang mengaku bernama Engkus tersebut dua kali.

Pertama Abi bertemu dengannya ditengah hutan, lalu dihari ketiga Abi bertemu kembali tidak jauh dari permukiman warga sekitar.

Tanpa disadari Abi, saat pertama kali bertemu dengan sosok yang bernama Engkus tersebut saat itu Abi diarahkan kedekat perkampungan warga yang berdekatan dengan hutan di kawasan TNGGP.

“Menurut warga yang sekitar dan yang menukan Abi yaitu pak Engkus, bertemu hanya satu kali, ketika Abi saat menghampiri meminta pertolongan karena tersesat ditengah hutan selama tiga hari,” kisah Yani Indrayani (51) paman Abi yang juga ikut dalam pencarian bersama tim gabungan.

Yani mengisahkan, menurut warga sekitar hutan tersebut memang terkenal sangat menyeramkan, bahkan sudah beberapakali kejadian orang hilang. Namun belum ada kabar hingga meninggal dunia.

“Menurut cerita dari warga sekitar yang menolong Abi, sudah sering banyak terjadi orang hilang, hingga kelompok off road yang menambrak pohon besar, karena dikira jalanya yang dilalui lurus pada sudah dikelilingi pohon besar,” ujarnya bersama beberapa rekannya.

Abi yang kesehariannya hanya dirumah dan kadang mengirimkan toge kepasar tersebut, sebelum sempat berbicara beberapa rekannya akan berlibur selama tiga hari.

“Orang tua Abi sebetulnya tidak mengetahui Abi pergi, hanya saja sempat berbicara pada beberapa rekannya akan berlibur selama tiga hari. Eh malah kejadian Abi hilang dihutan selama tiga hari,” ujar sang paman.

Hingga saat ini Abi masih mengalami trauma atas peristiwa yang dialaminya tersebut. Bahkan ia mengaku kapok tidak akan kembali lagi bermain kehutan. Selain itu dirinya masih mendapatkan perawatan karena luka dikakinya.

Itulah kisah mistis yang dialami Abi. Lanjut dengan kisah mistis 14 pendaki di Gunung Gede Pangrango.

Dikutip dari akun Instagram @mountnesia, cerita mereka telah diposting dan menuai ratusan komentar ‘ngeri’ netizren.

mountnesia : #MISTIS – Pengalaman dari @iwankurnia89 – KISAH MISTERI SIMPANG MALEBER GUNUNG GEDE

Ini adalah cerita yang kami alami saat melakukan pendakian ke Gunung Gede via jalur Gunung Putri pada pertengahan bulan Desember tahun lalu. Rencana pendakian ke Gunung Gede sudah kami persiapkan jauh-jauh hari mulai dari pembagian tugas hingga manajemen waktu pendakian dan jumlah rombongan kami ada 14 orang, 12 laki-laki dan 2 perempuan.

Bagi saya mendaki Gunung Gede bukanlah yang pertama. Tahun 2015 saya mendaki kesana via jalur Cibodas. Tahun 2016 saya mendaki ke Gunung Pangrango juga melalui jalur Cibodas, dan di tahun 2017 ini saya baru saja selesai Trekking di jalur Cibodas bersama Istri. Tapi untuk mendaki via jalur Gunung Putri adalah pengalaman pertama bagi saya.

Sesuai rencana kami sepakat untuk berangkat daro Bogor pada hari Jumat jam 06:00 pagi, namun karena berbagai macam alasan akhirnya kami berangkat jam 08:00. Kami terpecah menjadi beberapa grup karena ada yang langsung ke Cibodas untuk mengurus SIMAKSI.

Sekitar jam 10:00, rombongan kami berkumpul semua di kantor TNGGP Cibodas kecuali 2 orang perempuan yang langsung bertemu di Basecamp Gunung Putri karena berasal dari Cianjur. Bersama rombongan kecil dari Jakarta, sekitar jam 11:00 kami berangkat dari Cibodas menuju Gunung Putri dengan menyewa 2 angkot.

Jam 12:00 kami tiba di jalur Gunung Putri, sesuai kesepakatan kami ganti Shalat Jumat dengan Shalat Dzuhur di jalur pendakian agar tidak sampai di Suryakencana malam dan menghindari hujan plus kabut tebal. Semua rombongan sudah lengkap ketika kami melapor ke Basecamp Gunung Putri, dan memulai perjalanan dengan langit yang mulai mendung.

Baru melewati kebun-kebun warga hujan gerimis mulai turun, Namun tidak lama berhenti lagi. Singkat cerita dari Pos Pertama sampai Pos Simpang Maleber selama di perjalanan tidak ada hal-hal aneh kecuali saat di batas hutan dan kebun warga, kami menemukan sesaji dengan wangi kemenyan yang baru dibakar. (Bersambung ke Kolom Komentar)

mountnesiaDengan badan yang sudah terlalu lelah karena jalur pendakian yang terus menanjak dan diguyur hujan, akhirnya saya dan sebagian rombongan istirahat di Simpang Maleber sambil mengisi perut dengan cemilan dan menunggu sebagian rombongan yang tertinggal. Waktu itu hari sudah mulai sore menjelang maghrib.

Ketika semua sudah kembali kumpul di Simpang Maleber, ada seorang pedagang dan anaknya yang akan membuka lapak di Suryakencana sempat istirahat sebentar, ketika ia dan anaknya melanjutkan kembali perjalanan, pedagang tersebut bilang “jangan sampai kemaghriban disini”.

Tidak lama kami melanjutkan kembali perjalanan ke Suryakencana yang tinggal sebentar lagi. Tapi saat itu hari sudah mulai gelap, mungkin sudah maghrib. Akhirnya kami sampai juga di Pos Suryakencana. Satu persatu semua berkumpul di batu besar tak jauh saat keluar dari jalur pendakian, kecuali 2 orang yakni Ivan dan Kang Irwan, menurut bang Andri Kang Irwan yang sudah berumur kelelahan sehingga istirahat dahulu.

Cuaca mulai dingin, hari menjadi gelap, dan kabut tebal turun menutupi alun-alun Suryakencana. Sambil menunggu Ivan dan Kang Irwan, 3 orang memutuskan untuk mendahului untuk mencari tempat untuk kami berkemah.

Setelah Ivan dan Kang Irwan sampai di Suryakencana. Kami semua bersama rombongan Jakarta yang tadi seangkot dengan kami meneruskan ke lokasi kemah, yakni di alun-alun sebelah Timur. Berbekal Headlamp dan HT untuk berkomunikasi dengan 3 orang yang duluan ke lokasi kemah, kami semua berjalan menembus tebalnya kabut malam itu.

Sampai di lokasi kemah, kami langsung dirikan kemah, masak makanan dan minuman lalu istirahat. Paginya rencana kami ke puncak Gede harus gagal karena hujan badai dan kabut tebal. Selesai badai, kabut tebal dan angin tidak kunjung reda, sehingga kami hanya foto-foto di alun-alun Suryakencana.

Pukul 10:00 kami semua packing untuk kembali turun. Awalnya kami berencana menggunakan jalur puncak Gede-Cibodas, karena kabut masih tebal dan angin cukup kencang akhirnya kami semua putuskan untuk kembali menggunakan jalur Gunung Putri dan tiba di basecamp sekitar jam 14:00, dilanjutkan ke Cibodas untuk ambil motor dan makan setelah itu langsung pulang ke Bogor.

mountnesiaSesampai di rumah, semua saling mengabari dan berbagi foto lewat grup WA, namun selang beberapa hari kemudian, salah satu anggota rombongan, kang Noor, bertanya lewat grup WA. “Waktu itu yang paling terakhir siapa??”, Saya jawab “Ivan dan Kang Irwan, kenapa memang kang?”, Kang Noor tidak mau menjawab. Sampai beberapa kali waktu sering saya singgung ada apa selama di jalur pendakian, namun kang Noor tetap diam.

Akhirnya kang Noor berani bercerita kemarin, kurang lebih 1,5 bulan setelah pendakian. Dia bilang waktu di pendakian, setelah dari Pos Simpang Maleber posisi dia paling depan dan yang lain di belakang karena kang Noor lihat jelas siapa-siapa saja yang ada dibelakangnya. Tapi sesampai di Alun-alun Suryakencana, ternyata semua yang dia lihat ada di belakangnya sudah sampai di alun-alun duluan.

Sayapun juga merasa aneh, karena setelah dari Simpang Maleber, posisi kang Noor ada di depan saya, tapi ternyata ada di belakang. Sontak di grup WA jadi bertanya-tanya “siapa sosok yang menyerupai kami dibelakang kang Noor dan siapa sosok kang Noor di depan saya selepas dari Simpang Maleber???” Sampai kini masih misteri.

-Sekian-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *