Scatter Pink

Scatter Hitam

rokokbet

BET4D

scatter hitam

SCATTER PINK

6 Mitos Gunung Slamet Sang Atap Jawa Tengah, Apa Saja?

6 Mitos Gunung Slamet Sang Atap Jawa Tengah, Apa Saja?

Gunung Slamet merupakan salah satu gunung yang terletak di wilayah Jawa Tengah. Gunung dengan tinggi 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini terletak di 5 kabupaten, yaitu Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga.

Gunung Slamet mendapat julukan ‘Atap Jawa Tengah’ karena puncaknya paling tinggi jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Jawa Tengah. Di balik kemegahannya, Gunung Slamet ternyata punya banyak mitos.

Hingga hari ini, masyarakat setempat masih mempercayai mitos yang dituturkan turun-temurun oleh leluhur mereka. Penasaran dengan mitos yang ada di Atap Jawa Tengah ini? Simak penjelasannya berikut ini.

Mitos-mitos di Gunung Slamet

6 Mitos Gunung Slamet Sang Atap Jawa Tengah, Apa Saja?

Mengutip Tesis berjudul Mitos Di Gunung Slamet di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karang Reja, Kabupaten Purbalingga (2012), Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta oleh Maria Astria Rini, Selasa (24/10/2023), berikut ini 6 mitos tentang Gunung Slamet.

1. Nama Gunung Slamet

Gunung Slamet adalah gunung terbesar di Jawa Tengah, dan bagi sebagian masyarakat Jawa, dipercayai sebagai pusat pulau Jawa. Ada pandangan yang menyebutnya sebagai gunung lanang (laki-laki) dan ada pula yang menyatakan bahwa dulunya dinamai Gunung Agung sebelum diganti menjadi Gunung Slamet.

Nama ‘Slamet’ diartikan sebagai selamat, menunjukkan bahwa gunung ini dianggap sebagai sumber keamanan dan keselamatan bagi masyarakat sekitarnya. Terdapat juga kepercayaan bahwa Gunung Slamet adalah tempat yang angker dan dihuni oleh makhluk halus.

Terakhir, letusan Gunung Slamet tercatat pada tahun 2009 dengan lava pijar, tetapi sesepuh di Bambangan mengklaim bahwa gunung ini sejak zaman kakek buyut mereka hingga saat ini tidak pernah meletus, hanya ‘terbatuk-batuk’.

2. Upacara Ruwat Bumi

Gunung Slamet adalah tempat sakral bagi masyarakat Dusun Bambangan di mana mereka melakukan upacara ‘ruwat bumi’ setiap tahun pada bulan Sura dalam kalender Jawa. Tujuan utama upacara ini adalah menciptakan keseimbangan antara manusia dan alam serta memberikan ketentraman dan keselamatan.

Upacara ini diadakan pada malam Kliwon, biasanya pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, sebagai penghormatan kepada bulan Sura. Masyarakat meyakini bahwa upacara ini adalah cara untuk meminta keselamatan, kesehatan, dan berterima kasih atas rezeki dari alam, serta menjaga diri dari gangguan makhluk halus yang dipercayai mendiami Gunung Slamet dan Dusun Bambangan.

Selama upacara, masyarakat merawat alam, menghormati penguasa Gunung Slamet, dan menjaga hubungan baik dengan makhluk halus yang mereka percayai sebagai penunggu Dusun Bambangan.

3. Makhluk Halus Penunggu Gunung Slamet

Masyarakat Dusun Bambangan meyakini bahwa Gunung Slamet dihuni oleh beberapa makhluk halus, termasuk Mbah Jamur Dipa dan Mbah Rantasari. Mbah Jamur Dipa dianggap penguasa Gunung Slamet yang dapat mengabulkan permohonan.

Ada juga makhluk halus lain yang bisa berubah wujudnya, termasuk kuntilanak dan pocong, serta jenis makhluk halus yang sering membuat suara menakutkan yang disebut lelembut. Masyarakat meyakini bahwa menjaga hubungan baik dengan makhluk halus ini penting untuk menjaga keamanan dan keselamatan lingkungan mereka.

4. Lokasi Angker di Gunung Slamet

Masyarakat Dusun Bambangan percaya bahwa Gunung Slamet adalah tempat keramat yang dihuni oleh makhluk halus dan roh-roh leluhur. Mereka menghindari tempat-tempat tertentu di Gunung Slamet yang dianggap angker, seperti Pondok Walang dan Pelawangan, yang dianggap sebagai tempat pasar siluman.

Di Dusun Bambangan, ada juga kepercayaan bahwa pohon besar di jembatan masuk Dusun Bambangan ditempati oleh makhluk halus yang disebut Mbah Rantasari. Masyarakat meyakini bahwa mengusik tempat-tempat ini bisa berakibat buruk karena akan mengganggu makhluk halus yang mendiaminya.

5. Mitos Binatang di Gunung Slamet

Gunung Slamet adalah rumah bagi berbagai binatang seperti lutung, macan, babi hutan, dan celeng. Masyarakat Bambangan meyakini bahwa binatang-binatang ini tidak akan mengganggu pendaki.

Selain itu, terdapat mitos tentang binatang seperti ular besar dan kuda sembrani yang diyakini sebagai jelmaan dari makhluk halus, seperti Nyi Roro Kidul di puncak Gunung Slamet. Binatang-binatang ini memiliki makna khusus dalam mitos masyarakat setempat.

6. Larangan Saat Pendakian Gunung Slamet

Pendaki harus mematuhi larangan dalam pendakian di Gunung Slamet, terutama terkait cuaca ekstrem di bulan tertentu. Suatu kali pernah ada kejadian tragis menimpa seorang pendaki yang nekat mendaki pada cuaca buruk dan meninggal di puncak Gunung Slamet.

Mitos dan larangan dalam pendakian melibatkan aspek spiritual, seperti tidak boleh berbicara sembarangan, buang air kecil atau besar sembarangan, mengeluh, atau berbicara frontal. Menyentuh lutut juga dilarang dalam pendakian Gunung Slamet.

Para pendaki juga dilarang mendaki jika sedang menstruasi. Melanggar larangan ini dapat memicu kemarahan makhluk halus dan berdampak buruk bagi pendaki dan sekitarnya.

Demikian informasi lengkap mengenai mitos di Gunung Slamet. Semoga bermanfaat, Lur!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *