Beberapa Misteri Selat Bali Tenang Namun Mematikan

Beberapa Misteri Selat Bali Tenang Namun Mematikan

Jobbee.work -Kita tidak hendak berspekulasi mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di Selat Bali. Melainkan dari ragam kisah yang terjadi melalui pendekatan sejarah. Nah, kiranya tulisan ini dapat mengurainya secara faktual, melalui data yang dihimpun dari berbagai sumber. Walaupun secara budaya tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan yang beredar pada masyarakat di sekitar selat tersebut.

Sejak masa perkembangan kerajaan-kerajaan awal di Indonesia, Bali sangat identik dengan kebesaran budayanya yang sakral. Juga dengan Banyuwangi, yang berada dalam posisi bersebelahan. Area Selat Bali memang terkenal dengan berbagai kisah misteri yang menyelimuti. Sejak masa kerajaan Blambangan di Banyuwangi hingga Jembrana yang berada di Bali barat.

Terlebih pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, ketenangan Selat Bali seketika terusik dengan aksi amphibi pasukan Republik yang hendak menyerang Belanda di Bali. Aksi amphibi pertama kali, yang melibatkan pasukan Ciung Wanara dan I Gusti Ngurah Rai adalah satu-satunya aksi heroik yang tak kenal takut. Bahkan berhasil meledakkan sebuah kapal patroli Belanda.

Jika dikaitkan dengan keyakinan rakyat Bali, aksi pasukan Ciung Wanara “seakan” mendapatkan restu dari “penunggu” Selat itu. Tetapi kita tidak akan ulas keyakinan ini menjadi latar belakang misteriusnya area tersebut. Apalagi secara geografis, Selat Bali adalah lokasi pertemuan antara arus Laut Jawa dengan arus Samudera Hindia, yang tidak pernah dapat diprediksi.

Dengan kedalaman kurang lebih 50 meter, Selat Bali memiliki arus bawah permukaan laut yang kuat. Walau kerap dijadikan lokasi menyelam yang sangat memanjakan mata. Apalagi jika memasuki area Taman Nasional Bali Barat, di sekitar pulau Menjangan. Telah menjadi destinasi wisata bagi pecinta pemandangan bawah laut yang mempesona.

Banyaknya terumbu karang di daerah tersebut dengan beragam ekosistemnya, tentu dapat memanjakan mata kita. Tetapi, bagi para pengunjung harus hati-hati ketika hendak menyelam. Lantaran pada kedalaman sekitar 10 m, arus bawah laut sudah mulai terasa kuat. Apalagi jika tidak dilengkapi peralatan menyelam yang memadai, tentu sangat berbahaya.

Ketenangan yang kerap terusik akibat angin yang membawa arus laut menjadi bergelombang. Hal ini kerap terjadi secara tiba-tiba, dan tentu saja sering membuat terjadinya insiden tabrakan antar kapal. Baik di Pelabuhan Ketapang, ataupun Gilimanuk. Belum lagi perahu-perahu wisata yang dapat dengan mudahnya terbawa arus ombak.

Jika kita membayangkan, pada masa lampau, tentu apa yang dilakukan oleh I Gusti Ngurah Rai bersama pasukan amphibinya sangat luar biasa hebat. Melihat ketiadaan perlengkapan yang memadai kala itu pada pasukan pejuang. Jadi tidak mengherankan, jika rakyat setempat kerap mengkaitkan hal ini terhadap area mistis. Apalagi para pejuang hanya memakai perahu kecil (sampan).

Tabrakan antara dua kapal yang terjadi pada tahun 2022 silam juga ditengarai akibat cuaca buruk yang tiba-tiba datang di Pelabuhan Ketapang. Sebelumnya juga ada insiden yang menenggelamkan sebuah kapal motor KMP Yunice, dengan 7 orang meninggal serta 6 lainnya hilang. “Setiap ada insiden disini, pasti banyak pertanyaan”, ungkap seorang nelayan kala itu di Pantai Boom, Banyuwangi.

Ada sebuah kisah, yang “konon” melibatkan seekor naga di masa lampau. Naga Besukih namanya, yang berkonflik dengan seorang anak pandhita bernama Manik Angkeran. Lantaran Manik Angkeran kerap berjudi dari hasil kekayaan yang diberi oleh sang naga, maka murkalah Naga Besukih, hingga membelah Banyuwangi dengan Bali untuk memisahkan sang pandhita dengan anaknya.

Cerita rakyat yang berkembang di masa lalu, mungkin saat ini jarang terdengar lagi kisahnya. Karena secara logis kisah tersebut tidaklah dapat menjelaskan mengenai berbagai misteri di Selat Bali. Walaupun sebagian rakyat di pesisir masih meyakini adanya sosok naga tersebut, yang menjaga area Selat Bali.

Kiranya demikian kisah misteri Selat Bali yang dapat dituangkan melalui berbagai pendekatan. Semua tentu kembali kepada kita masing-masing, dalam melihat fenomena alam sebagai bagian dari kehendak Tuhan YME. Kuncinya ya tentu saja, jaga alam dengan sikap selayaknya manusia, agar tidak rusak hingga dapat dinikmati anak cucu kita kelak. Salam damai, terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *