
Kegagalan Hyundai Hillstate ke final Liga Voli Korea memunculkan sorotan dari media Korea, Kyeonggi, mengenai masa depan tim yang selama beberapa tahun terakhir tampil dominan.
Hyundai Hillstate harus menelan kekecewaan setelah gagal melangkah ke final Liga Voli Korea (V-League) musim ini lantaran dikalahkan Red Sparks 2-1.
Menurut Kyeonggi, tim asal Suwon ini menghadapi tentangan besar dalam membangun kembali kekuatannya untuk pentas di musim depan.
Selama empat musim terakhir, Hyundai Hillstate bisa dibilang tengah berada dalam periode emas di bawah kepemimpinan pelatih Kang Sung-hyung.
Setelah sempat terpuruk di posisi terbawah pada musim 2020-2021, mereka bangkit dengan menjuarai liga di musim berikutnya.
Hyundai Hillstate kemudian finis sebagai runner-up di 2022-2023, dan bahkan meraih gelar juara ganda pada musim lalu.
Dengan catatan gemilang ini, banyak yang mengira Hyundai akan kembali bersaing untuk meraih gelar musim ini.
Namun, realitas berkata lain. Meski diperkuat oleh skuad yang kurang lebih sama dengan musim lalu, Hyundai Hillstate gagal menunjukkan ketangguhan mereka.
Tim asuhan Kang Sung-hyung ini kerap kesulitan menghadapi tim-tim kuat seperti Pink Spiders dan Red Sparks.
Akibatnya, Hyundai harus puas finis di posisi kedua di musim reguler dan akhirnya tersingkir di babak playoff.
Salah satu faktor utama di balik kegagalan Hyundai adalah performa para pemain asing mereka.
Pemain asal Kamerun, Moma Bassoko, yang diharapkan menjadi mesin pencetak angka utama, justru tampil kurang konsisten.
Meski mencatatkan 721 poin dan menempati peringkat keempat dalam daftar pencetak poin terbanyak, efektivitas serangannya menurun dengan persentase keberhasilan hanya 40,93 persen.
Selain itu, beberapa kali gestur emosionalnya di lapangan sempat menimbulkan perdebatan, bahkan disebut-sebut memicu ketegangan di dalam tim.
Di sisi lain, pemain Asia Quota mereka, Wipawi Sitong dari Thailand, juga mengalami musim yang sulit.
Setelah mengalami cedera parah, ia harus mengakhiri musim lebih cepat. Situasi ini membuat Hyundai kehilangan salah satu pemain yang seharusnya bisa menjadi penyeimbang dalam permainan.
Selain pemain asing, pemain lokal Hyundai juga mengalami penurunan performa. Sang kapten sekaligus ikon tim, Yang Hyo-jin, tampak tidak setangguh musim-musim sebelumnya.
Pemain muda berbakat seperti Jeong Ji-yun juga masih belum bisa tampil konsisten. Bahkan setter utama mereka, Kim Da-in, harus menjalani musim yang melelahkan karena kurangnya rotasi pemain di posisinya.
Dengan hasil yang mengecewakan ini, Hyundai Hillstate dihadapkan pada pilihan sulit: tetap mempertahankan inti tim saat ini atau melakukan perombakan besar-besaran.
Beberapa pemain kunci, seperti middle blocker Lee Da-hyun, dikabarkan sedang mempertimbangkan tawaran untuk bermain di luar negeri. Jika benar hengkang, Hyundai harus segera mencari pengganti yang sepadan.
Selain itu, kemungkinan pergantian pemain asing juga cukup besar. Dengan performa yang kurang memuaskan, baik Moma maupun Wipawi bisa saja tidak diperpanjang kontraknya.
Hyundai kemungkinan akan mencari pemain asing dengan kemampuan blocking dan serangan yang lebih baik untuk memperkuat lini depan mereka.
Selain masalah komposisi pemain, Hyundai juga harus memperbaiki strategi mereka. Dominasi mereka selama beberapa musim terakhir tampaknya mulai terbaca oleh lawan-lawan mereka.
Hal ini dirasa perlu inovasi dalam taktik dan pendekatan permainan agar mereka bisa kembali bersaing di papan atas.
Menatap Masa Depan
Meski gagal ke final musim ini, Hyundai Hillstate masih memiliki potensi besar untuk kembali bangkit di musim depan.
Fondasi tim ini masih cukup kuat, dengan beberapa pemain berpengalaman yang bisa membimbing generasi muda.
Namun, tanpa perubahan signifikan, mereka bisa tertinggal dari tim-tim lain yang terus berkembang.
Musim depan akan menjadi ujian besar bagi Hyundai Hillstate. Apakah mereka akan kembali sebagai pesaing kuat untuk gelar juara, atau justru terjebak dalam masa transisi yang sulit?
Semua bergantung pada bagaimana mereka mengelola perombakan tim di jeda musim ini.